Wednesday, July 8, 2009

the fall of man, a review

Bertahun-tahun sudah lamanya Kerajaan Romawi gagal menahlukkan Albion (Inggris Raya) ke dalam kekuasaannya. Pertahanan gabungan tentara dan warga Albion terlalu sulit dikalahkan.

Angus Flaherty dulunya seorang tentara gagah dan turut mempertahankan Albion dari serbuan Romawi. Dibawah pimpinannya, banyak serbuan Kerajaan Romawi berhasil dikalahkan. Sampai dalam sebuah pertempuran di desanya yang kecil, tak bisa dielakkan lagi, istrinya terbunuh dan ia terluka parah.

Rasa sedih, marah dan kecewa adalah yang Angus rasakan sejak saat itu. Pada anak laki-laki satu-satunya, Brianna, Angus melimpahkan tanggung jawabnya untuk memimpin pasukan mempertahankan Albion dari setiap serbuan Romawi. Dengan trauma kematian ibunya serta semangat untuk mempertahankan tanah airnya, Brianna menerima tanggung jawab tersebut dan menjadi seorang pemuda gagah dan cakap berpedang. Brianna punya segala sesuatu yang ia perlukan untuk bertempur kecuali ia tidak dapat mengendalikan amarahnya pada Romawi.

Dalam sebuah pertempuran di desanya, pasukan pimpinan Brianna kembali dapat menahlukkan pasukan Romawi. Banyak dari mereka mati terbunuh atau lari tunggang langgang menyelamatkan diri, namun salah satunya tertinggal luka parah, tergeletak seperti mati di tanah Albion.

Aine Flaherty adik perempuan Brianna yang bisu sejak lahir mengetahui hal ini pertama kali. Ia mendekati dan mengamati sesosok tubuh tergeletak dengan pakaian tentara Romawi ketika Gaius Vorenus, tentara itu, mencengkeram kencang lengan tangan Aine. Brianna datang menolong, dan setelah perkelahian tak imbang antara dirinya dengan tentara terluka itu, Brianna menang dan siap menghujamkan pedangnya ke dada Gaius ketika Angus mencegahnya.

Angus ingat istrinya yang terbunuh ketika ia tak berdaya. Angus memahami Brianna masih muda dan belum bisa mengendalikan emosi. Ia mengingatkan apabila Brianna membunuh orang yang sudah tidak berdaya berarti ia tidak ubahnya dengan tentara Romawi yang dulu membunuh ibunya. Brianna menggeram keras dan dengan cepat meninggalkan tentara itu.

Dengan kebesaran hati dan perdamaian dengan masa lalu yang pahit, Angus dan Aine merawat Gaius. Angus menyiapkan makanan hasil bumi dari tanah milik keluarganya untuk dimakan Gaius, Aine membersihkan dan mengobati luka di tubuh Gaius supaya sembuh. Brianna masih tidak dapat mengatasi dendam dan amarahnya, ia tidak pernah mendekati Gaius meski mereka tinggal bersama.

Dalam suatu kesempatan Angus Flaherty harus meninggalkan desa kecilnya beberapa hari. Keadaan Gaius waktu itu sudah cukup membaik berkat perawatan Aine. Aine semakin dekat dengan Gaius, dan Gaius yang pernah bersikap kasar beberapa saat pada Aine tidak lagi demikian. Mereka jatuh cinta. Brianna mengetahui hal ini. Masih terbakar dengan rasa dendam dan amarah kematian ibunya serta mengetahui bahwa ayahnya sedang bepergian keluar desa, ia berniat untuk membunuh Gaius.

Caitriona adalah warga desa tempat keluarga Flaherty tinggal. Ia suka berdandan dan selalu berkata bahwa ia wanita paling cantik di seluruh Albion. Banyak orang mengatakan bahwa Caitriona sinting, namun tak ada yang mengetahui bahwa sejak lama ia iri dengan hasil bumi dari pertanian di tanah milik keluarga Flaherty.

Terbakar rasa amarah, Brianna menumpahkan perasaan dan niatnya untuk membunuh Gaius. Waktu itu ia berada di salah satu sudut desanya dan tak menyadari bahwa Caitriona bersembunyi diantara semak-semak belukar. Mengetahui Caitriona ada disana dan mendengarkan niatnya membunuh, Brianna hendak membunuh Caitriona. Sekuat tenaga Caitriona membujuk Brianna untuk tidak membunuhnya termasuk dengan memberikan beberapa gagasan bagaimana Brianna dapat membunuh Gaius tanpa meninggalkan jejak. Brianna tertarik dengan satu gagasan dan tidak menyadari bahwa gagasan tersebut akan digunakan Caitriona untuk mendapatkan seluruh tanah milik keluarga Flaherty.

Tibalah saatnya untuk rencana pembunuhan tersebut. Caitriona mengajak Aine ke sebuah tempat sementara Brianna mendatangi Gaius untuk membunuhnya. Brianna datang dengan sebuah pedang lain untuk dipakai Gaius bertarung melawannya. Lagi-lagi pertarungan yang tidak berimbang. Sekalipun luka di tubuh Gaius sudah lebih baik, namun ketika ia harus bertarung melawan Brianna, ia tetap tidak akan bisa mengimbangi kekuatan Brianna. Gaius kalah, dan Brianna seketika itu juga menghujamkan pedangnya ke dada Gaius.

Tepat pada saat itu, Caitriona, yang seharusnya menahan Aine berada di tempat lain, datang bersama Aine. Mengetahui orang yang dicintainya mati tertusuk pedang, Aine mendekat sambil berurai air mata lalu menggunakan pedang yang tadi digunakan Gaius bertarung melawan kakaknya untuk menggores lehernya. Aine mati disamping Gaius. Brianna terkejut, ia tidak menyangka bahwa Aine, adiknya, akan melakukan hal itu. Ia berusaha membangunkan Aine dan tidak menyadari bahwa Caitriona diam-diam mengambil pedang milik Brianna yang terpelanting lalu menusuk punggung Brianna berulang-ulang. Brianna mati di tangan Caitriona.

Puas dengan rencana cerdiknya yang berhasil tanpa cela, Caitriona tertawa keras. Cukup keras sampai terdengar oleh Angus yang mendekat dari kejauhan, ia baru saja pulang dari bepergian selama tiga hari dan mendapati kedua anaknya dan tentara Romawi yang ditolongnya tergeletak tak bernyawa. Caitriona berteriak histeris penuh kemenangan dan berulang kali berkata bahwa ia menang. Sedikit lagi, dan ia akan dapat sepenuhnya menguasai tanah milik keluarga Flaherty. Tanpa rasa kasihan bahkan sebaliknya dipenuhi dengan rasa iri dan dendam, Caitriona menusuk Angus sampai mati.

Caitriona lebih dari puas sekarang. Tidak ada lagi yang harus ia lakukan untuk mendapatkan tanah milik keluarga Flaherty yang subur makmur. Tak henti-hentinya ia tertawa keras, sampai terdengar suara keras lain mendekat. Pasukan Romawi kembali menyerbu Albion termasuk desa kecil dimana Caitriona tinggal. Ia ketakutan setengah mati, dan hanya berdiri sambil terus berteriak ketika tentara-tentara itu datang. Tentara-tentara itu tidak lagi menggunakan pedang yang mereka bawa untuk menahlukkan desa kecil itu, tapi mereka memperkosa Caitriona secara bergiliran.

***

Drama The Fall of Man di mainkan dengan baik oleh gabungan dosen dan mahasiswa Fakultas Sastra Inggris Universitas Bina Nusantara pada hari Senin, 6 Juli lalu di Kampus Anggrek. Naskah yang di buat oleh Venantius Vladimir Ivan dan Mikaela Yani Susanti ini dipentaskan dalam durasi waktu kurang dari dua jam dan mendapatkan sambutan yang cukup baik dari mahasiswa Sastra Inggris Universitas Bina Nusantara. Meski sempat mengalami halangan pengunduran diri tokoh sentral naskah drama yang sedianya akan di tampilkan, namun toh sisa waktu yang ada cukup untuk mengganti naskah baru dan berlatih dengan itu.

Kefasihan tokoh-tokoh sentral seperti Angus, Brianna dan Caitriona berdialog dalam bahasa Inggris membuat drama ini mudah dan asyik diikuti. Durasi waktu yang pas serta naskah yang tidak bertele-tele membuat drama berbahasa Inggris yang pertama kali dipentaskan oleh Fakultas Sastra Inggris ini sebuah awal yang baik untuk drama-drama lain diwaktu yang akan datang. Selamat dan semangat!

Wednesday, June 24, 2009

siapa yang gila?

Pagi itu Mel berangkat kerja seperti biasa. Jarak antara kos dan tempat kerja Mel tidak terlalu jauh. Mel biasa berjalan kaki. Rutenya dimulai dari jalanan kampung dimana kos Mel berada, menyusuri jalan Utama, menyeberang jalan Tubagus Angke dan kembali menyusuri jalanan perumahan di belakang jalan Tubagus Angke. Kantor Mel berada tepat di ujung luar perumahan tersebut.

Lima menit lagi Mel sampai ke kantornya. Seorang ibu dengan tangan kanan dan kiri memegang masing-masing tas plastik penuh belanjaan berjalan santai didepannya. Jalanan perumahan pagi itu tidak seperti biasanya, tidak tampak pembantu-pembantu rumah tangga yang mengerumuni penjual sayur atau tengah membersihkan halaman depan rumah. Sepi. Tidak ada yang istimewa pagi itu sampai ketika Mel dan ibu yang berjalan didepannya terkejut dengan kehadiran seorang laki-laki berusia tiga puluhan didepan mereka.

“Bilang nggak kenapa gue gila!”, tanya laki-laki itu setengah membentak ke arah si ibu yang berada di depan. Telunjuknya mengarah ke depan.
“Nggak tahu...”, jawab si ibu sambil menggeleng. Wajahnya tampak pucat, langkahnya terhenti lalu sedikit demi sedikit berusaha menghindar dari laki-laki itu.
“Bilang nggak kenapa gue gila! Ayo bilang!”, bentak laki-laki itu lagi. Matanya melotot, telunjuknya menunjuk kedadanya lalu kembali menunjuk si ibu.
“Nggak tahu...”, jawab si ibu lagi. Gelengan kepalanya lebih kuat kali ini. Matanya berusaha mencari bantuan dari sekitar tempatnya berdiri.

Mel berdiri dan memucat sedari tadi. Setelah menguasai keterkejutannya, ia berusaha mundur pelan-pelan. Lebih baik memutar arah dan mencari jalan lain, pikirnya. Tapi....
“Ayo bilang kenapa gue gila!!!”, teriak laki-laki itu sekali lagi. Si ibu meloncat karena terkejut sekaligus ketakutan. Ia menengok ke belakang dan melihat Mel satu-satunya orang yang berada di sekitar tempat itu. Lalu dia berlari kebelakang Mel, berusaha mencari perlindungan dan berkata pada Mel “Tolong ibu, nak..”.

“Saya juga takut, bu..”, jawab Mel berusaha menghindar dari si ibu. Tanpa mereka sadari laki-laki itu mengikuti dan segera bertanya hal yang sama, lagi-lagi pada si ibu. Ia sama sekali tidak tertarik untuk bertanya pada Mel. Mel sedikit bernafas lega, si ibu kalang kabut. Segala usahanya untuk menghindar dari laki-laki itu tidak membuahkan hasil, bahkan permintaan tolongnya pada Mel yang saat itu ada disana tidak juga membantu. Laki-laki itu terus mengejarnya.

Ia berhenti menghindar. Minggir dan meletakkan kedua tas plastik yang ia bawa ke sisi jalan. Lalu melepas salah satu sendal jepitnya. Mengangkatnya tinggi-tinggi dan mengarahkannya ke laki-laki itu sambil berteriak “Tolong orang gila! Orang gila! Tolong!”.

Tepat pada saat si ibu berteriak dan mengacung-acungkan sendal jepitnya, beberapa pembantu keluar dari rumah mereka. Tiba-tiba laki-laki itu berkata dengan tenang “Kamu itu yang gila.” lalu berjalan menjauh dari Mel dan si ibu. Laki-laki itu berkaos oblong putih bersih, bercelana tanggung warna hijau dan mengenakan sandal yang bersih dan bagus. Tidak ada tanda-tanda kegilaan.

Beberapa pembantu yang berdatangan itu berhenti mendekat dan melihat kearah si ibu. Memandang sejenak lalu satu persatu kembali menuju ke rumah tempat mereka keluar tadi. Mel mematung, memandang ke arah si ibu yang masih mengangkat sendal jepitnya tinggi. Si ibu melihat sekeliling, dilihatnya semua orang berjalan menjauh setelah mendengar perkataan laki-laki gila tadi. Ia bingung dan tidak terima, Mel tahu ibu itu ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada semua orang. Ia juga ingin membantunya menjelaskan. Tapi apakah itu masih perlu?

Ibu itu menurunkan sendal jepitnya, masih berdiri mematung belum bisa menguasai dirinya setelah kejadian tadi. Mel melanjutnya perjalanannya, ia tidak perlu memutar jalan menuju kantor karena laki-laki itu sudah menghilang di balik sebuah rumah. Mel menggelengkan kepala dan tersenyum. Siapa yang gila sih sebenarnya??

Thursday, October 2, 2008

love inside, love outside

Hari senin lalu aku menyaksikan adegan demi adegan yang tulus. Dalam rangka pembuatan sebuah dokumenter seorang seniman musik hebat di Yogya, aku berkunjung dan mendengarkan cerita demi cerita mengenainya. Waktu lalu adalah cerita cinta sang seniman dengan istrinya. Sang seniman duduk bersandar di sebuah kursi tanpa kaki sambil meluruskan kaki kanannya dan menekuk kaki kirinya. Istri tercinta duduk di bawah dan meletakkan siku kanannya keatas lutut kaki kiri sang seniman. Sesekali ketika bercerita, istri tercinta menepuk-nepuk kaki sang seniman. Mereka tersenyum dan terkadang tertawa lepas.

“Saya ketemu bapak pertama kali waktu masih SMA di tahun 70an. Waktu itu saya tinggal dengan seorang saudara yang menjaga sebuah gedung sekolah di bagian barat Yogya. Sebuah ruangan di belakang gedung tersebut disewa oleh sanggar teater dimana bapak tergabung didalamnya. Tiap kali kami berpapasan saya selalu menyapa bapak dan memberikan senyuman. Setelah itu kami sering bersepeda beriringan disiang hari ketika saya pulang dari sekolah di daerah Sekip UGM, sebelah utara Yogya; sedangkan bapak berangkat menuju ke sanggar. Kebetulan rumah bapak tidak jauh dari Sekip. Singkat cerita, meskipun waktu itu bapak sudah punya pacar yang tinggal di Jakarta dan saya juga sudah berpacaran namun kami tetap dekat satu sama lain. Saya juga pernah dikenalkan bapak dengan pacarnya waktu pacarnya berkunjung ke Yogya. Tapi entah mengapa kami tetap dekat. Kami menjadi lebih dekat ketika pacar saya pindah ke kota lain dan kami tidak pernah komunikasi lagi. Akhirnya kami menikah dan menjadi suami istri sampai saat ini” cerita bu Kapti panjang lebar sembari merangkul dari samping sang tokoh. Sang tokoh tersenyum.

Sinar matahari masuk ke dalam ruang tamu waktu itu, bu Kapti berdiri dan pindah tempat duduk menghadap sang seniman. Sedang sang seniman tetap ditempatnya. Sesekali mereka berpandangan dan tertawa sehingga gigi-gigi sang seniman terlihat di sela kumis putihnya.

“Saya memilih bapak karena bapak itu baik, tidak macam-macam dan perhatian. Bapak tidak seperti seniman-seniman lain. Meski bapak cacat namun bapak itu baik sekali, tidak aneh-aneh. Bapak itu jujur, saking jujurnya kadang bapak pentas tanpa dapat bayaran sepeserpun. Bapak tidak pernah marah. Kalau beda pandangan tentang cara mendidik anak pasti pernah. Namun tidak pernah sampai padu kalau orang jawa bilang. Tapi saya pernah jengkel kalau bapak bilang akan bantu saya mencuci pakaian namun lupa dan gitar-gitaran sampai saya selesai mencuci”.

Makan siang tersedia, lotek pedas dan tidak pedas tersedia di ruang tamu dengan nasi putih dan krupuk. Kami yang ada diruang itu; saya, sang seniman dan istri tercinta serta seorang teman anggota kelompok musik sang seniman; makan siang bersama-sama. Sang seniman pindah posisi duduk kali ini. Ia duduk berdekatan dengan istrinya. Istri tercinta bertanya “Bapak mau minum?”, dijawab dengan anggukan oleh sang seniman. Lalu istri tercinta masuk ke dalam ruangan lain dan kembali dengan segelas teh manis panas. “Ini, pak”.

Sang seniman dan istri tercinta sudah menikah selama dua puluh empat tahun sekarang. Namun pandangan mata mereka masih seperti pandangan mata sepasang muda mudi yang baru saja meresmikan hubungan kasih. Ketika sang tokoh bermain gitar dan menyanyikan lagu-lagunya untuk kami dengarkan, istri tercinta datang membawakan segelas teh manis sembari berkata “Ini pak, saya suguh teh manis”. Sang seniman berhenti bermain gitar dan meminum teh manis yang masih hangat buatan istri tercinta dan berkata “ Mitra kasih”. Senyum mengembang dan istri tercinta kembali ke ruang dalam. Indah sekali.

Sunday, September 7, 2008

Spanglish

Film ini bercerita mengenai dua keluarga yang berbeda budaya dan mengambil lokasi di Amerika Serikat. Flor Moreno (Paz Vega), seorang Meksiko, yang bermigrasi ke Amerika bersama dengan anak tunggalnya, Cristina, bekerja sebagai pengurus dan pengasuh pada keluarga Clasky. Keluarga Clasky terdiri dari John Clasky (Adam Sandler); seorang koki terkenal, Deborah Clasky; istri John; dua anak mereka Bernie dan Georgie serta Evelyn Wright, ibu Deborah.


Setelah ditinggal pergi oleh suaminya, Flor memutuskan untuk memulai hidup baru di Amerika. Bersama dengan anaknya, ia mencari sebuah daerah dengan penduduk mayoritas warga hispanik dan akhirnya menemukannya di negara bagian Los Angeles, sebuah kawasan dengan mayoritas 48% hispanik. Seorang sepupu menampung mereka berdua. Pada awalnya Flor bekerja dobel untuk menghidupi keluarga, sementara Cristina dirumah belajar mandiri mengurusi dirinya sendiri. Mereka hanya berbicara dalam bahasa Spanyol meskipun akhirnya Cristina bersekolah dan dapat berbicara dalam bahasa Inggris. Bagi Flor, dunia diluar wilayah hispanik adalah dunia yang tidak perlu diketahuinya. Ia hanya mengenal kebudayaannya yaitu Meksiko. Dia cukup menjaga anaknya mengenai hal ini. Cristina tumbuh dalam budaya Meksiko. Mereka hidup aman dan bahagia.



John dan Deborah adalah teman SMA. Sejak saat itu mereka pacaran dan akhirnya menikah. Diceritakan dalam film ini bahwa hubungan Deborah dengan ibunya, Evelyn Wright tidak harmonis. Sebagai seorang penyanyi terkenal di jamannya, Evelyn tidak memperdulikan Deborah dimasa-masa penting pertumbuhannya sampai akhirnya hubungan mereka tidak dekat dan Deborah menjadi orang yang aneh dan egois. Deborah menyalahkan kondisi ini pada Evelyn. Demikian juga hubungan Deborah dengan kedua anaknya, Bernie dan Georgie. Deborah seringkali tidak dapat memahami kebutuhan anak-anaknya dan sibuk dengan pemikirannya sendiri. Dalam pernikahan mereka, John selalu hadir sebagai penengah dan pendamping antara Deborah, kedua anaknya dan Evelyn. Acapkali waktu John bekerja dikorbankan supaya dapat berada ditengah-tengah keluarga.

Semenjak Cristina beranjak remaja, Flor tidak punya pilihan lain kecuali mencari sebuah pekerjaan yang dapat menghidupi keluarganya sehingga ia punya cukup waktu untuk mendampingi dan mengawasi pertumbuhan Cristina. Mau tidak mau Flor harus keluar dari wilayah aman kaum hispanik dan masuk ke dunia luar, dunia yang selama ini ia hindari. Dalam sebuah interview dengan Deborah dan ditemani oleh sepupunya sebagai penerjemah bahasa, Flor mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya tersebut. Namun dua hal yang ia pegang teguh adalah tidak akan mencampuri urusan keluarga Clasky terlampau jauh dan tidak akan belajar bahasa inggris meski ia bekerja pada keluarga Amerika.

Dua budaya

Sangat menarik melihat interaksi antara dua budaya yang berbeda dalam film yang disutradarai oleh James L. Brooks ini. Keterbatasan bahasa dan perbedaan pola pikir yang saling bersentuhan ditampilkan dalam alur cerita yang asyik dan penuh makna.

Tidak ada kesan hubungan antara majikan dan pengasuh dalam film ini. Suasana rumah keluarga Clasky yang ramai dan dinamis meski terkadang bermasalah cukup membuka ruang bagi seorang Flor untuk menjalankan perannya disana. Salah satu prinsipnya untuk tidak ikut campur dalam urusan keluarga Clasky dapat dilaksanakannya. Sekalipun sulit dalam berkomunikasi, namun tidak ada pemaksaan dari keluarga Clasky pada pengasuh baru mereka untuk belajar bahasa inggris.

Keterbatasan bahasa mereka atasi dengan mencari padanan kata dalam bahasa lain seperti Italia, menjelaskannya panjang lebar dalam bahasa inggris disertai gerakan anggota tubuh atau menggunakan obyek benda tertentu. Kalau pada akhirnya Flor ditampilkan ingin belajar bahasa inggris itu lebih karena keinginannya sendiri untuk membuka diri pada dunia luar yang selama ini dihindarinya. Meski dengan begitu tidak serta merta Flor mengambil semua hal yang ada didunia luar tersebut. Ia tetap berpegang teguh pada akar budayanya, Meksiko.

Konsep laki-laki macho dalam budaya Meksiko juga disinggung dengan manis dalam film ini, bukan sebagai bahan tertawaan melainkan keberagaman budaya bangsa. Flor keheranan ketika dalam sebuah kesempatan ia melihat John menangis setelah bertengkar dengan Deborah. Seorang laki-laki macho tidak akan menangis, apalagi didepan wanita, begitu pikir Flor.

Penonton tidak perlu mengkerutkan kening ketika menonton film ini karena perbedaan budaya dan interaksinya diperlihatkan sebagai sesuatu hal yang menyenangkan meski jalannya tidak selalu demikian.

Konflik dalam film ini memuncak ketika suatu pagi Deborah yang jatuh cinta oleh kecantikan dan keluguan Cristina mengajaknya pergi ke kota tanpa meminta ijin oleh Flor. Cristina kembali dengan rambut bercat warna warni dan banyak belanjaan yang dibelikan oleh Deborah. Belum lagi reda dengan kejadian ini, Flor kembali terkejut dengan tindakan Deborah mengajak Cristina ke sekolah Bernie sampai-sampai Cristina berhasil mendapatkan beasiswa untuk bersekolah disana. Lagi-lagi Deborah melakukan hal ini tanpa meminta ijin dari Flor terlebih dahulu.

Lambat laun perubahan sikap terjadi pada diri Cristina, perhatiannya terpecah menjadi dua antara ibu kandungnya Flor dan Deborah. Cristina terbuai dengan berbagai hadiah materi yang diberikan oleh Deborah.

Suatu hari, Deborah memintakan ijin pada Flor supaya Cristina dapat menginap di rumah keluarga Clasky bersama dengan teman-teman sekelasnya. Flor yang waktu itu sedang mengadakan menyambut kedatangan seorang anggota keluarga lain yang hijrah ke Amerika kembali terkejut dengan sikap Deborah. Paginya, ia menuju ke rumah keluarga Clasky dan berkata bahwa ia berhenti bekerja.

Dalam perjalanannya bersama Cristina menuju ke halte bis, Flor mengatakan pada anaknya bahwa semua akan berbeda mulai saat ini. Cristina akan kembali ke sekolahnya yang dulu dan mereka tidak akan bertemu dengan keluarga Clasky lagi. Bagi Cristina Moreno perjalanan menuju ke halte bis pagi itu adalah perjalanan terpanjang dalam hidupnya. Dengan banyak hal baru yang ia terima dari Deborah dan keluarga Clasky, Ia merasa bahwa ibunya melakukan kesalahan besar dan berlaku tidak adil padanya. Ia menghardik ibunya didepan banyak orang dan tidak mau berdekatan dengan ibunya. Bagi Flor Moreno, perjalanan menuju halte bis pagi itu adalah pergulatannya mendapatkan kembali anaknya.




Friday, July 11, 2008

aneh

Kunjungan terakhir pendekarku, Mei 2008 lalu membawa pelajaran yang amat berharga. Selesai dengan pengambilan gambar dibeberapa tempat disekitar Yogyakarta, saatnya dia dan seorang teman kembali ke Jakarta. Berangkat menuju ke bandara Adi Sucipto dengan sepeda motor, laju dan arah kendaraan dijalankan dengan hati-hati. Jalanan dari arah Babarsari menuju ke Bandara sedang diperbaiki.

Aspal jalan baru saja di garuk karena entah akan diapakan. Bentuknya seperti garis lurus panjang di sepanjang jalan aspal, dengan ketinggian yang tidak sama pada bagian yang tidak tergaruk. Setiap orang yang melaluinya akan merasakan ketidakseimbangan ban kendaraan yang melaju. Berbahaya.

Sekembalinya dari bandara ke arah kota, mau tak mau jalanan aspal tergaruk itu pun harus ku lewati lagi. Semua berjalan lancar sampai di pertigaan lampu merah Maguwoharjo. Satu meter kurang menjelang lampu berganti warna merah, aku menambah kecepatan. Tak ku sangka, sebuah motor didepanku dengan seorang perempuan berhenti mendadak didepan garis lampu lalu lintas dan membanting stir ke arah kiri. Dan...ciiiittt, braaakkk!!! Motorku jatuh ke samping, dan aku tersungkur diatasnya.

Damn!!

Seorang polisi muda dengan senyum tersungging mendekati, si perempuan dimintanya untuk berjalan kaki ke apotik terdekat membeli obat merah. Kepadaku dimintanya surat-surat berkendaraan. dengan rasa sakit di dada dan luka di kaki kanan kukeluarkan surat-surat yang diminta dan aku lemparkan ke atas sebuah meja di pinggir jalan.

Beberapa menit kemudian, aku, si perempuan yang ternyata tidak punya surat mengemudi dan sang polisi muda usia terlibat dalam perdebatan. Dengan emosi aku mempertahankan sebuah kata, yaitu menuntut, yang menurutku tidak masuk akal diucapkan oleh seorang polisi pada kasus ini.

Kendaraan kami berdua tidak mengalami kerusakan, si perempuan mengakui bahwa setelah berhenti mendadak setelah lampu merah dia membanting stir ke arah kiri mengambil jalanku, aku mengakui bahwa kecepatan aku tambah dengan maksud tidak tertahan lampu merah. Kami berdua berbicara tanpa emosi tinggi, malah sempat-sempatnya bergurau. Bisa-bisanya, sang polisi muda usia bertanya kepada si perempuan "Apakah mbak mau menuntut mbak ini (aku) karena kejadian ini?".

Panjang lebar dan berkali-kali aku mempermasalahkan kata tersebut. Si perempuan berusaha menengahi dan sampai pada satu titik, akhirnya sang polisi muda menyerah. Mengembalikan surat-suratku dan berkata "Baik, silahkan kalian berdua berdamai". Seraya meninggalkan kami berdua yang tidak menghiraukan lagi perkataannya.

? ! @ # $ % * ^!

Siapa yang harus berdamai? Aneh!!

Thursday, July 10, 2008

sepeda baru


Kamis 10 Juli, adalah hari yang membahagiakan bagi Shima. Keponakanku yang pertama dan tomboy ini. Setelah sekian lama merengek, merajuk, menagih janji dan meneriakkan keinginannya punya sepeda, Shima punya sepeda baru

Siang itu seperti biasa, Bapak Shima (selanjutnya akan ditulis "Bapak" saja) pulang ke rumah dari kantor untuk makan siang. Setelah makan siang, Bapak memanggil Shima. Opo?", sahutnya tanpa semangat seperti biasa. Biasa, keinginannya untuk punya sepeda baru sejak liburan akhir tahun ajaran Juni lalu belum kesampaian. Padahal seringkali dia menyaksikan teman-teman di kampung bersepeda riang gembira untuk mengisi liburan. Shima juga ingin turut serta. Pelan Shima mendekati Bapak diruang makan. "Ikut yuk" kata Bapak. "Nang ngendi to pak?" jawab Shima. "Mau ikut atau nggak?" jawab Bapak tanpa menjawab pertanyaan Shima

Akhirnya Shima ikut Bapak, naik sepeda motor menuju ke sebuah tempat yang dia belum tahu. Senyumnya mulai tersimpul ketika sepeda motor Bapak berhenti didepan toko sepeda di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta. "Arep tumbas sepeda po pak?" tanya Shima memastikan. "Heeh" jawab Bapak singkat.

Dengan gaya malu-malu, Shima berjalan diantara sepeda-sepeda berukuran kecil yang berjajar di dalam toko sepeda. Ada sepeda berwarna merah jambu, hitam, dan warna-warni lain. Ada sepeda BMX, federal dan sepeda mini dengan uraian pita warna-warni di ujung pegangan tangannya. Semua disentuh, dilihat. Bapak hanya tersenyum di sebuah sudut toko memperhatikannya. Ketika langkahnya terhenti lama pada satu sepeda, dilihatnya Bapak; meminta persetujuan atau pertimbangan. "Terserah mbak Shima pengen e sing ndi."jawab Bapak.

Tiga puluh menit berlalu, lalu, sebuah sepeda federal merek Hunter berwarna biru tua terlihat. Shima mendekat dan menatap Bapak dengan pandangan yakin. "Shima pengen kuwi?" tanya Bapak dan dia mengangguk tersenyum malu.

Sepuluh menit kemudian, setelah diseberangkan oleh Bapak, Shima pulang kerumah dengan kayuhan mantap pada sepeda barunya, bentangan rambut kriwil dan senyuman lebar menuju rumah. Bapak mengikuti dengan sepeda motornya dari belakang. Siirrr...Cihuiii...

Sesampainya dirumah dicarinya Eyang Putri. Lalu, "Yang, sepedaku anyar lho" teriaknya dari halaman rumah, sambil terus mengayuh sepeda barunya. Eyang keluar rumah dan tersenyum. Tampak giginya yang tinggal satu dua. "Pak, aku pit-pitan yo" teriaknya lagi. Lalu keluar halaman rumah, mengelilingi jalanan dalam kampung. Seluruh isi rumah berteriak kompak.."Nggayaaa..".Namun Shima sudah hilang dari pandangan dengan sepeda barunya.

Wednesday, May 14, 2008

anjing pen-terapi?

Dua ekor anjing ras, satu berjenis dalmatian dan lainnya golden retriever, yang tinggal di sebuah negara bagian di Amerika punya pekerjaan sebagai pen-terapi di sebuah rumah sakit lokal. Itu adalah salah satu contoh dimana anjing tidak hanya sebagai binatang peliharaan, menjaga rumah sang empunya namun juga menjadi sosok yang memberikan kesembuhan untuk manusia.

Mencengangkan, ketika aku melihat proses kerja kedua anjing tersebut memberi terapi. Datang bersama sang empunya anjing, keduanya berjalan kaki dari rumah menuju rumah sakit. Setibanya dirumah sakit, mereka mendapatkan daftar pasien yang akan di "terapi" hari itu. Lalu mereka menuju ke ruangan demi ruangan, mendekat naik ke atas tempat tidur si pasien dan memberikan 'senyuman' terbaik mereka. Membiarkan tubuh mereka dibelai-belai oleh si pasien, terkadang menjilati si pasien sampai tertawa geli. Dan selesailah terapi hari itu.


**
Mengapa sosok anjing menjadi penting dalam proses terapi seorang pasien? Secara ilmiah aku tidak bisa memberikan jawabannya. Namun dari apa yang pernah aku alami dan lihat pada beberapa video dokumenter, anjing bisa memberikan rasa sayang yang apolitis kepada siapapun. Senyum yang mereka berikan, jilatan yang mereka lakukan dan kehadiran mereka betul-betul tulus. Anjing seakan-akan bisa merasakan rasa sakit manusia, bisa memahami perasaan manusia, bisa diajak "bicara" oleh manusia.

**
Seorang teman baru-baru ini mendapat hibah seekor anjing yang belum jelas berjenis apa. Moka namanya, berbulu antara coklat dan ungu dan tingginya tidak lebih dari dua jengkal tanganku. Pertama kali datang dari kota tetangga Semarang, Moka belum bisa menyalak. Yang dilakukannya hanya bersin dan bersin. Baru setelah hampir satu jam, Moka akhirnya bisa menyalak ke arah suara penjual minuman yang lewat.



Menyambung tema anjing pen-terapi. Sejauh aku tahu dan dengar, temanku itu amat sangat jarang berolah raga. Perutnya gendut, sulit buat dia untuk naik ke atap kandang burung setinggi 1,5 meter dengan bantuan kursi waktu ambil gambar sebuah film. "Olahraga" kesukaannya adalah memainkan kesepuluh jari tangannya diatas keyboard laptop, menulis, atau menaik turunkan tangan dari dan ke mulutnya sembari memegang sebatang rokok, merokok. Sungguh..Temanku butuh "terapi terselubung" untuk membantunya mengecilkan tonjolan diperutnya, dan tentu saja berbeda dengan yang dilakukan dua anjing berbeda ras yang kuceritakan diatas.

Kampung tempat tinggal temanku cukup padat dan ditinggali keluarga dengan ragam latar belakang. Maka dari itu seutas tali warna-warni melingkari leher Moka. Sehari-hari Moka bermain sejauh tali itu menjangkau, namun bukan berarti Moka kuper. Suatu malam, Moka tak berhenti menyalak selama beberapa menit. Semua benda yang bergerak dia respon, anjing atau kucing tetangga yang lewat tak lepas dia komentari..Lalu keluarlah temanku, Moka loncat kesana kemari sambil terus menyalak seolah menjawab pertanyaan temanku "Ada apa sih, Mok?". Sedikit kebingungan, ujung tali warna-warni yang melingkar dileher Moka diambil oleh temanku. Moka langsung melesat keluar pagar..Mereka jalan-jalan mengelilingi kampung.

Sepanjang perjalanan malam itu adalah pemandangan yang lucu. Dengan sepasang sandal jepit, akhirnya temanku memulai "terapi terselubung" pertamanya. Seakan meluapkan kebahagiaannya berhasil mengajak tuannya jalan-jalan, Moka menggenjot kecepatannya. Lari kesana-kemari, kadang mengerem mendadak demi mengendus bau tertentu, lalu dengan kecepatan penuh kembali berlari. Pontang panting, temanku mengikuti langkah pemberi terapinya. Nafas tersengal-sengal, peluh mengucur kecil dikening.

Sesampainya dirumah, Moka minum setengah piring air putih lalu tertidur pulas. Sementara temanku setengah mengutuki "terapinya" malam itu sembari mengatur nafasnya kembali. Sosok pen-terapi bisa lembut seperti sepasang Dalmatian dan Golden Retriever di Amerika, namun bisa juga liar seperti Moka dengan temanku sebagai pasiennya. Ayo Moka, semangat!!